
Warga Terpaksa berjalan d badan jalan Tentara Pelajar, Jakarta, Jumat (23/8/2019) saat pekerja membongkar trotoar jalan yang diperuntukan pejalan kaki.
Dalam sebuah rapat, seorang kawan meluapkan keluh-kesahnya. Ia menyebutkan penjaja panganan yang mulai parkir di trotoar samping kantor. Trotoar ini umurnya belum genap 2 bulan setelah kelar dilebarkan jadi sekitar 4 meter. Padahal, proses renovasi trotoar sepanjang sekitar 200 meter itu memakan waktu berbulan-bulan.
Trotoar yang lapang adalah dambaan pejalan kaki dan pemakai angkutan umum. Setelah turun dari angkutan keren semacam KRL Commuterline, bus transjakarta, MRT, atau LRT, disambut trotoar bagus itu rasanya sesuatu banget. Banyaknya orang kantoran berjalan kaki di sepanjang Jalan Sudirman itu buah trotoar yang nyaman untuk dilalui.
Baca juga : Berber bukan Barbar
Baca juga : Sirene Penanda Banjir

Trotoar Jalan Sabang yang tetap kurang nyaman untuk berjalan kaki karena okupasi kendaraan dan PKL, Rabu (22/1/2020). Padahal trotoar ini baru selesai ditata pada 2013 lalu lengkap dengan parkir elektronik.
Sebaliknya, bila trotoar sempit, berlubang, atau bau, rasanya terlempar dari kereta atau bus yang nyaman ke dunia nyata yang kejam. Betapa tidak kejam. Pejalan kaki mesti berjuang mati-matian melewati trotoar alakadarnya itu untuk sampai ke tempat tujuan atau mencapai stasiun/halte selanjutnya.
Itupun kadangkala mesti diikuti dengan sedikit akrobat manakala lewat di trotoar yang sedang digali atau dijadikan tempat tumpukan karung berisi endapan hasil kurasan saluran air. Kalau jalan tergenang atau banjir, kesialan bakal berlipat karena sudah pastilah pejalan kaki ikut-ikutan nyebur di air yang kotor. Sekalipun jalan nggak tergenang, risiko lain masih ada yakni kecipratan air saat kendaraan melintasi genangan.
Bila hujan tidak turun, trotoar yang ada pun kerap tidak berpihak ke pejalan kaki. Salah satunya karena tidak tersisa lagi tempat buat pejalan kaki selaku pihak yang sesungguhnya berwenang penuh menikmatinya. Trotoar yang dipenuhi kendaraan parkir atau barang jualan pedagang kaki lima memaksa pejalan kaki turun ke jalan.
Sebagai contoh di kawasan Kota Tua saat libur akhir pekan yang bertepatan dengan Imlek, Sabtu (25/1/2020). Pejalan kaki yang ramai mesti berdesakan di jalur sempit lantaran PKL mengepung sisi kanan-kiri trotoar. Padahal, trotoar itu juga sudah dilebarkan menjadi lebih 3 meter.
Baca juga : Berani Membangun, (Belum) Berani Menjaga
Baca juga : DKI Kaji Satgas Trotoar
Akses yang Perlu, Cukup 1 Minggu
Telah hadir paket Kompas Digital Premium 1 minggu! Langganan sekarang dan nikmati akses referensi tepercaya.

Baca juga : Aksi Trotoar untuk Pejalan Kaki di Jakarta

Pejalan kaki berdesakan saat melalui trotoar di Jalan Lada, kawasan Kota Tua, Jakarta, Sabtu (25/1/2020).
Ada PKL yang menggelar barang dagangan di lantai trotoar, ada penjual makanan yang menaruh beberapa kursi plastik kecil di depan dagangannya, yang lain lagi memajang dagangan di tiang-tiang yang mudah dipindahkan. Petugas Satpol PP yang menghalau PKL di tepian jalan raya, mendorong pedagang berimpit-impitan di trotoar atau berpindah tempat.
Beberapa pejalan kaki yang nggak tahan lagi dengan kemacetan di trotoar ini memilih jalan di tepi jalan raya yang tengah macet. Ruwet sungguh. Padahal, Kota Tua ini salah satu ikon wisata unggulan ibu kota.
Apakah pedagang tidak dibutuhkan pejalan kaki?
Pemandangan di Kota Tua menunjukkan bahwa PKL punya relasi dua arah dengan pejalan kaki. Buktinya, pejalan kaki juga yang mampir beli mainan, sepatu, kaos kaki, ikat rambut, dan aneka pernak-pernik lain. Pedestrian jugalah yang duduk-duduk menikmati kudapan yang dijual PKL. Di tengah pemandangan jalan raya yang macet oleh kendaraan, PKL adalah hiburan tersendiri bagi pejalan kaki sembari melangkahkan kaki ke tujuan.

Para turis asing menikmati suasana kawasan wisata di Khao San, kota Bangkok, Thailand, Rabu (28/5/2014).
Dua sisi mata uang PKL dan pejalan kaki ini difasilitasi di kota besar mancanegara, namun dengan aturan main yang ketat. Bangkok misalnya, menjadikan makanan ala PKL sebagai bagian dari daya tarik wisata. Namun, ada aturan main seperti lokasi yang diperbolehkan, jenis barang dagangan, jam operasional, serta standar kebersihan. Yang lebih utama, tersedia ruang yang memadai bagi pejalan kaki di trotoar sehingga berjalan kaki tetap nyaman.
Pemandangan di Kota Tua menunjukkan bahwa PKL punya relasi dua arah dengan pejalan kaki.
Melirik trotoar Jakarta yang sudah lebar di banyak tempat dan legalnya PKL di trotoar negara tetangga, memfasilitasi PKL mungkin bukan masalah apabila ada aturan main. Tetapi, aturan saja tidak cukup tanpa pengawasan dan penegakan hukum. Bila aturan tidak bisa ditegakkan, barangkali kita memang harus mengembalikan trotoar sebagai tempat yang steril 100 persen dari kepentingan di luar pejalan kaki. Kekhawatiran akan penegakan aturan inilah yang membuat teman kantor mengeluhkan adanya satu pedagang di trotoar, di awal tulisan ini.
"Yang" - Google Berita
January 26, 2020 at 07:31AM
https://ift.tt/37uWd5l
Trotoar yang Melebar – Bebas Akses - kompas.id
"Yang" - Google Berita
https://ift.tt/2pYhsfy
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update
Tidak ada komentar:
Posting Komentar